Munculnya Ulat Bulu secara tiba-tiba,,,

Telah kita ketahui bahwa Indonesia memiliki dua musim, yakni musim kemarau (Mei-Oktober) dan musim penghujan (September-April). Namun mulai tahun 2010 lalu, Indonesia tidak benar-benar mengalami musim kemarau yang sesungguhnya. Akibat kondisi yang selalu basah, maka tumbuhan akan terus menghijau dan potensi ulat untuk memakan daun hijau sangat besar.

Secara ilmiah, terjadinya wabah ulat bulu ini disebabkan karena terjadinya perubahan iklim yang tidak menentu saat ini. Sebenarnya  ada saat-saat di mana populasi ulat bulu lebih banyak dari saat-saat lainnya, misalnya pada musim hujan. Namun, karena faktor pemanasan global dan ketidakseimbangan ekosistem, bertambahnya populasi ini menjadi berlebih dari biasanya hingga akhirnya menjadi wabah ulat bulu. Naiknya temperatur secara drastis, juga mempercepat pertumbuhan ulat bulu sehingga populasinya berkembang dengan sangat cepat. Musim hujan yang cukup lama dari biasanya ini meningkatkan pertumbuhan tanaman yang menjadi makanan ulat bulu terssebut, sehingga populasi ulat bulu juga ikut bertambah.

Selain iklim, suhu juga ikut berperan dalam mendorong ledakan pupolasi ulat bulu ini. Suhu diyakini dapat mempengaruhi dan merubah beberapa gen untuk memunculkan berbagai karakter baru pada tubuh ulat bulu sehingga tubuhnya cenderung bersifat resistan atau kebal terhadap zat-zat kimia tertentu seperti pestisida.

Selain disebabkan oleh iklim dan suhu, munculnya wabah ulat bulu ini juga disebabkan karena berkurangnya predator yang sering memangsa ulat bulu. Sehingga dalam prinsip piramida makanan, bila konsumen tingkat I berkurang dan konsumen tingkat II meningkat, maka akan terjadi kenaikan jumlah yang signifikan. Dalam hal ini, konsumen tingkat I adalah burung dan konsumen tingkat II adalah ulat bulu.

Selain itu, penggunaan pestisida secara berlebih juga dapat meningkatkan munculnya ulat bulu tersebut.

Jadi dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan munculnya wabah ulat bulu ini, antaralain:

  1. Terjadinya perubahan iklim yang berdampak  pada berubahnya pola siklus perkembangbiakan suatu hewan atau serangga.
  2. Berkurangnya predator yang memangsa ulat bulu tersebut.
  3. Penggunaan Pestisida berlebihan dan pola tanam Monokultur.

Dalam menyikapi hal tersebut, menurut pendapat Drs. Asmoro Lelono, MSi “Karena kita berbicara tentang keseimbangan alam, hendaknya kita menjaga keseimbangan dan menghargai apa yang ada di alam. Selama ini kita selalu berfikir bahwa semua yag ada di alam ini untuk manusia dan dimanfaatkan untuk manusia. Tetapi kita lupa saat memanfaatkan alam kita tidak berfikir bahwa alam dan seisinya termasuk flora dan fauna juga memerlukan keseimbangan,” jelasnya.

“Selama ini kita kurang atau bahkan tidak hormat terhadap alam. Jadi saran saya, kedepan kita harus lebih peduli dengan lingkungan dan harus menjaga keseimbangan alam, tidak hanya pada skala yang besar saja melainkan harus dimulai dari yang terkecil. Harus diingat, walau kecil namun jika jumlahnya besar bisa merepotkan manusia, contohnya saja karena eksploitasi manusia akan semut rangrang dan burung, maka beribu-ribu ulat bulu merepotkan banyak orang,” kata Drs. Asmoro Lelono, MSi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s